Jumat, 11 Mei 2018

Prosa Abadi : Jauhkan Aku Dari Pujian

Jauhkan Aku dari pujian

Ketika mereka menganggapku bijak, jauhkan aku dari pujian
Ketika mereka menganggapku orang baik, jangan biarkan aku termakan pujian
Ketika mereka mengatakan aku pandai, jauhkan aku dari kesombongan
Ketika mereka mengatakan aku kaya, jauhkan aku dari sifat sok pamer
Ketika mereka mengatakan aku ganteng, jauhkan aku dari gedhe rasa

Tuhan, jauhkan aku dari segala pujian
Supaya aku jangan menjadi sombong dan kemudian jatuh
Karena menganggap diri lebih baik dari orang lain
Karena kesombongan adalah tempat setan bekerja untuk menginjak manusia
Biasakan aku menerima pujian dengan rendah hati,
sebagai bagian dari kemanusiaanku jika memang itu melekat pada diriku
Dan berani menolak tegas kalau intu hanya sanjungan kosong.

Rabu, 09 Mei 2018

Prosa Abadi : Kesempatan

Kesempatan


Di ujung mimpiku pagi ini
Membias seberkas cahaya kebimbangan
mengisyaratkan tanda tentang masa depan yang tak pasti
Tentang suatu kesempatan yang tak kunjung tiba
Yang ditunggu, diharapkan sekian lama
Namun tak pernah memperlihatkan diri
Dan hanya mengisyaratkan bayangannya lewat kata-kata palsu
sekedar menghibur, bahwa besok masih ada waktu

Di ujung mimpiku subuh tadi
Hanya nampak ketidakpastian akan masa depan
Itu mengelisahkan diri yang hanya bergayut dengan kerinduan
Tertatih-tatih menunggu sang waktu menepati janjinya
Dan waktu berlalu dengan naif tanpa memberi makna
Sampai kapankan kesempatan itu masih bisa diidamkan
Atau ia hanya sekedar memanas-manasi hati
Membiarkan Yang Kudus turut bermain
untuk melunakan hati yang semakin tenggelam dalam keengganan untuk maju

Di akhir mimpiku pagi ini
Aku dibawa kepada kesangsian tentang masa depan
Tentang suatu kesempatan yang tak kunjung tiba
 Membuat hati ini rindu pulang pada ibunda
Untuk melampiaskan emosi jiwa yang semakin memberat tersimpan dalam jiwa
Ingin melepas angan-angan hati yang tak kunjung tiba
Membiarkan diri ini kembali pada realitas alam nyata
Untuk menikmati hidup yang lebih pasti
Sebab setiap kesempatan bisa diraih dengan usaha

Mimpiku pagi ini hendak mengatakan padaku
Bahwa hidup ini selalu tak pasti
Ia tidak menjanjikan kesempatan mutlak
Semuanya diaturvoleh waktu dan membutuhkan waktu
Ia akan bergulir, berproses dan seterusnya
Akan memutuskan  pada suatu saat apa yang dikehendakinya
Dan aku, hanya sebagian kecil dari proses itu
Yang mungkin tak memberi banyak arti
Bahkan mungkin hanya sekedar menjadi pemoles
Yang mungkin memberi kesan dalam dia sisi
Baik...atau...tidak baik

Kesempatan...kesempatan, aku semakin menjadi rindu dendam
Mengapa kau tak kunjung datang...
Dan hanya bermain-main dengan angan-angan (Kalbar 18 Juli 2002)

Selasa, 08 Mei 2018

Belajar dari "kesendirian" (menyimak pengalaman Robinson Crusoe)

Belajar dari "Kesendirian"

Bila ada pernah menonton film tentang Robinson Crusoe, prolog film ini nampak memberikan gambaran singkat bahwa sebuah catatan perjalanan 'seorang Ronbinson Crusoe' akhirnya menjadi inspirasi bagi sebuah cerita film dengan judul dari nama yang sama Robinson Crusoe. Sang mengarang cerita yakni Daniel Defoe membaca catatan perjalanan yang berisi kisah  tentang seorang pria yang terpaksa menyingkir, atau lebih tepat 'melarikan diri' karena pembunuhan yang ia lakukan melaui duel pedang untruk memperebutkan seorang gadis idaman yang ternyata sama-sama mereka cintai dan ingin miliki. Robinson Crusoe akhirnya membunuh Patrick pesaingnya. Penyingkiran yang rencananya hanya untuk setahun, seperti janji Robinson untuk Mary kekasihnya, akhirnya menjadi panjang, nasib menentukan lain. Kapal yang ditumpangi Robinson karam dan menewaskan semua awaknya kecuali Robinson seorang diri yang akhirnya terdampar di sebuah pulau.


Kamis, 03 Mei 2018

Sragen-Solo dan pabrik batik (segelintir pengalaman)

Dari beberapa kota di pulau Jawa, kota Sragen dan Solo termasuk daerah penghasil aneka ragam 
batik, baik tulis, cap, printing, semi tulis, smoke, cap mix tolet dan tolet biasa dan mungkibn masih ada yang lainnya. Tanggal 26 April 2018 lalu saya, tepatnya kami berdua (saya dan istri saya) dolan (jalan-jalan) ke Sragen dan Solo untuk melihat wokshop batik, tetapi kali ini ke tempat pabrik printing (manual). Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya yang selama ini kurang saya perhatikan.

 Proses produksi batik printing

Sumber : Kalinggobatiksolo.com
Yang menjadi perhatian saya bukan wokshopnya atau pabriknya, karena dibandingkan dengan yang lain pada umumnya yang sistem manual, dalam hal ini menggunakan tenaga kerja manusia bukan mesin tidak ada perbedaan yang mencolok. Yang membedakan adalah ada yang benar-benar menjaga kualitas dari outputnya dan ada yang mungkin kurang memperhatikannya. Misalnya proses mempersiapkan pewarna yang digunakan. Bagi pemain di batik printing untuk menjaga kualitas perlu sekali mempersiapkan pewarna yang kelak menghasilkan produk yang memuaskan bagi konsumen, artinya memberikan waktu khusus untuk mengecek sendiri proses mempersiapkan pewarnaan atau bahkan mengerjakan sendiri pewarna yang akan digunakan untuk sekali produksi atau bilang saja untuk mencetak dalam sehari dengan target tiga karyawan dengan 6 jam kerja plus 1 jam istirahat, untuk mengkasilkan produksi printing sepanjang 200 meter dengan lebar 1, 1 meter dari bahan mori entah itu prima atau primisima. Satu formula pewarnaan hanya dipakai untuk satu kali proses printing.  Ratio ini saya perkirakan dari workshop yang hanya memiliki satu meja printing sepanjang 25 meter.  Sudah pasti di workshop yang lain memiliki formula peralatan dan karyawan yang berbeda-beda. Jika formula pewarnaan itu kemudian ada sisa dan masih dipakai lagi untuk mencetak, maka akan menghasilkan produk yang berbeda warna, dengan cetakan hari sebelumnya, "yang warna tua akan bleber (bercampur) dengan warna yang muda". Demikian keterangan yang saya dapat dari seorang pemilik workshop batik printing manual. Kejadian seperti ini tentu bisa mengecewakan pelanggan karena pesanannya batiknya dengan motif sama ternya memiliki  perbedaan warna yang tidak diinginkan. Maka untuk menjaga kualitas, produsen harus memperhatikan hal ini.

 Cara memasarkan produk

Sebelum berkembangnya IT, proses pemasaran masih bersifat tradisional, artinya transaksi terjadi
Membuat batik cap. Sumber: TrioBBC

dari produsen langsung ke konsumen, atau juga ada pihak kedua yang menghubungkan preodusen batik ke pelanggan, atau pihak kedua yang mempunyai peran sebagai pembeli yang kemudian melemparkan ke pasar. Biasanya produsen memiliki pihak kedua yang membuat batik mereka sampai pada pelanggan. Apalagi tranportasi tidak semaju jaman ini, juga alat produksi dan hasil produksi sekarang jauh lebih berkembang.  IT sangat berpengaruh terhadap jalur pemasaran. Walaupun proses lama masih juga ada. Misalnya produsen punya gerai atau toko sendiri, yang juga memproduksi batik siap pakai, semisal konveksi yang memproduksi pakaian berbahan batik yang sudah jadi dalam jumlah banyak dan dilempar ke pasar, konsumen tinggal membeli sesuai selera dan ukuran yang umum. Atau juga produksi yang atau sifatnya jaitan sesuai permintaan yang mengutamakan selera pribadi, dengan motif yang "sanggit" atau pola sambung atau simetris sehingga indah dipandang.
Sekarang  produsen bisa mengadakan transaksi dengan para konsumen, bukan hanya lintas daerah di Indonesia melainkan juga manca negara, bahkan konsumen bisa langsung meminta produsen untuk memproduksi batik sesuai seleranya. Nah ini juga tergantung  dengan cara produsen melihat peluang pasar dengar mengakomodir kebutuhan konsumen dengan memberi tawaran kemudahan bertransaksi. Dalam konteks inilah IT sangat berperan, transaksi online menjadi media produsen memasarkan produknya.

Membuat batik tulis, sumber : Google











Nah inilah buah  dari hasil tanya sana-sini di Sragen dan Solo. Ada kepuasan tersendiri mengetahui sedikit tentang "batik". Apalagi kalau melihat sendiri corak, motif, warna dan lainnya. kasanah Indonesia yang luar biasa, ayo pakai batik, ayo cintai batik kita sebagai bagaian dari cara kita mencintai karya negeri sendiri.
(nemo dat quod non habet, tak seorangpun memberi dari apa yang ia tidak miliki)

Selasa, 01 Mei 2018

Part 2 : Sumbangan kesusasteraan Melayu-Tionghoa pada Kesusasteraan Indonesia

Sambungan dari sumbangan kesusasteraan melayu tionghoa pada kesusasteraan Indonesia part 1

1.2. Cina atau Tionghoa: sebuah persoalan identitas


Sumber : Google
Sebelum melangkah lebih jauh tentang hak ikhwal kesusasteraan Tionghoa di Indonesia, rasanya sangat perlu kita menggali akar historis sebutan atau kata Cina itu terlebelih dahulu. Sebutan Cina sebenanya baru mulai biasa digunakan pada era Orde Baru (Cat: sebelum tahun 1972, masih di eja dengan TJINA. sebutan ini dimaksudkan untuk menyebut orang-orang Tionghoa (Chinese) dan Tiongkok atau China sebagai sebuah negara. tetapi menurut beberapa penulis barat seperti J.W. van der Kroef dan Mary Sommers Heidhuis, sebutan Tjina sudah dipakai pada jaman kolonial dengan maksud "merendahkan" dan memiliki nuansa "menghina" atau meremehkasn. hal ini ditulis oleh Leo Suryadarma dalam bukunya Negara dan Etnis Tionghoa: Kasus Indonesia. Mungkin bisa dikaitkan juga dengan pemikiran Gordon Allport mengenai hakekat prasangka, bahwa memanggil orang dengan name calling (nama yang tidak senonoh) merupakan cerminan prasangka dan bisa disamakan dengan bentuk penolakan yang bersifat lisan. Sebutan seperti ini bisa saja muncul dari permusuhan yang sudah lama, kira-kira sepada dengan sebutan nigger untuk menyebut orang negro, apalagi penyebutan name calling itu dimulai oleh sebuah otoritas seperti pemerintah, yang dengan sendirinya memiliki pengaruh yang lebih besar. Kita bisa merunut akar penggunaan sebutan Cina  ini dalam sejarah.

Selasa, 24 April 2018

The image of Christ, Christ for all people, kontektualisasi Kristologis?


"Lebih baik melihat satu kali, daripada mendengar seratus kali", Pepatah Cina kuno ini mewakili pendapat bahwa apa saja yang dilihat lebih mudah diingat, dan memuat orang berbicara banyak dari pada terlalu banyak mendengar"

Sumber: Google
Seorang Pelukis Afrika yang bernama Alemayehu Bizumeh menuangkan dalam kanvas peristiwa Kitab Suci, sebagai karya seni mulai dari kisah manusia pertama hingga peristiwa penyaliban Yesus, tentu saja dalam nuansa "Afrikans", ya..Yesus digambarkan sebagai orang Afrika, kulit hitam, rambut keriting, tidak seperti gambaran Yesus yang selalu kita lihat "putih dan berambut panjang". sangat kentara sekali kontekstualisasi Yesus dengan background Afrika . Lukisan-lukisan yang bernuansa kristiani, juga termasuk di dalamya karya seni pahat, patung, mozaik, membawa orang pada kekaguman yang luar biasa dengan detail yang complicated dan itu semua dibuat berabad-abad  silam. Selain mengandung nilai seni yang tinggi, karya seni itu, misalnya lukisan-lukisan pada dinding gereja juga memiliki fungsi lain yaitu katekese,  evangelisasi atau pembelajaran iman, memahami siapa Allah, siapa Yesus yang tertuang dalam Kitab Suci melalui karya seni Lukisan. Gereja-gereja di eropa pada abad silam selalu dihiasi dengan mozaik-mozaik atau lukisan bertema biblis, apalagi pada masa itu Kitab Suci hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas, maka menjadi penting hadirnya lukisan-lukisan itu.  Dan lukisan tentu dipandang akan lebih banyak berbicara, karena mempunya unsur "terbuka" untuk hermeneutika, kontemplasi dan lainya. Bahkan tentu saja ada makna teologis di balik setiap lukisan atau karya seni rohani. Buku yang berjudul The image of Christ dan Crist for all people membuktikan hal ini.

Jumat, 20 April 2018

Prosa Abadi: Lilin-lilin Kecil

Lilin-lilin kecil

Cahayamu memancar membelah gelapnya malam ini
Bukan hanya satu, sekian puluh ada disitu
Sarat warna, tapi satu ukuran
dan bukan warnamu yang memancarkan cahayamu
Tetapi dirimu seutuhnya
Beberapa hari ini kalian cemerlang bercahaya
mengiring detak bathin yang sedang memanjatkan doa
Ada yang khusuk tangan terkatup
Ada yang terbuka mata menatap ke depan
Yang kau sinari, arca itu teguh berdiri
diam, seperti tak bermakna
Tetapi penampilannya memberi suatu tanda besar
Tangan terbuka dan hati yang mencinta
Datang, datanglah kepadaKu pandanglah hatiKu...
Katakan keluh kesahmu, cintailah Aku...

Sumbangan Kesusastraan Melayu-Tionghoa Pada Kesusastraan Indonesia (Menilik Perkembangan Sastra Melayu-Tionghoa)

sumber: Google

Sumbangan Kesusastraan Melayu-Tionghoa Pada Kesusastraan Indonesia
 (Menilik Perkembangan Sastra Melayu-Tionghoa)

Bermula syair ini dikarang
Membri tahu sekalian orang
Barula ada jaman sekarang,
Raja Siam datang di tana seberang

Dari Siam ke Singapura
Di Betawi sudah bikin bicara
Kompani prenta ini perkara'
Sopaiya sambut dari muara

Singapur nyebrang di Batavia,
Sebab mau liat tana Jawa
Tuan Besar sudah suruh sedia,
Ruma gedong sudah disewa.

(Penggalan Syair, "Sair Kedatangan Sri Maharaja Sian di Betawi" 1870, dalam bahasa Melayu-Rendah, Pengarang tidak diketahui)

Senin, 16 April 2018

Prosa abadi : Ini Aku, Tuhan...

Ini Aku, Tuhan...

 Ini aku,  Tuhan, yang pagi ini menunduk dan berdoa
Ini aku, Tuhan,  yang berdoa dalam kerinduanku dan kebutuhanku
Ini aku, Tuhan, bukan siapa-siapa...
Bukan temanku, bukan sahabatlu, bukan juga ibuku, tapi aku...Tuhan
yang tunduk berdoa karena kebutuhanku.
Yang telah Kau kenal sejak dalam kandungan ibuku
Aku yang sejak masa kecil te;ah Kau jaga dan Kau lindungi
Dan aku yang pada masa dewasaku ini Engkau uji..
Ini aku Tuhan yang berdoa dalam kecemasan
Ya ini aku Tuhan

Kamis, 12 April 2018

Batik sebagai salah satu "masterpiece" Bangsa Indonesia


Sumber: Artfan Design
Tahun 2008 aura hubungan Indonesia dan Malaysia sebagai suatu bangsa "agak" terganggu dengan statement negri jiran tersebut bahwa "batik" adalah hasil karya cipta mereka . Kita, indonesia merasakan pernyataan ini sebuah pelanggaran hak cipta bangsa. Setahun sesidahnya UNESCO menyatakan batik sebagai sebuah karya besar manusia, tentunya sebagai hasil karya bangsa kita Indonesia . Tak lama kemudian lahirlah Hari Batik Nasional pada tanggal 2 oktober 2009. Secara sederhana batik dipahami pakaian tradisonal bangsa indonesia yang kaya maknanya baik mengenai arti katanya, sejarahnya dan tentu juga falsafahnya. Maka seharusnya kita bukan hanya merasa bangga bahwa batik Indonesia adalah sebuah  masterpiece, tetapi mencintainya. Mencintai disini berarti kita bukan sekedar pemakai tetapi juga ingin mengenal lebih dalam tentangnya, baik  asal-usulnya, maknanya, coraknya yang berisi kebijaksanaan tersediri juga bagaimana proses pembuatan batik,  dan membuatnya semakin dikenal manca negara.