Kesempatan
Di ujung mimpiku pagi ini
Membias seberkas cahaya kebimbangan
mengisyaratkan tanda tentang masa depan yang tak pasti
Tentang suatu kesempatan yang tak kunjung tiba
Yang ditunggu, diharapkan sekian lama
Namun tak pernah memperlihatkan diri
Dan hanya mengisyaratkan bayangannya lewat kata-kata palsu
sekedar menghibur, bahwa besok masih ada waktu
Di ujung mimpiku subuh tadi
Hanya nampak ketidakpastian akan masa depan
Itu mengelisahkan diri yang hanya bergayut dengan kerinduan
Tertatih-tatih menunggu sang waktu menepati janjinya
Dan waktu berlalu dengan naif tanpa memberi makna
Sampai kapankan kesempatan itu masih bisa diidamkan
Atau ia hanya sekedar memanas-manasi hati
Membiarkan Yang Kudus turut bermain
untuk melunakan hati yang semakin tenggelam dalam keengganan untuk maju
Di akhir mimpiku pagi ini
Aku dibawa kepada kesangsian tentang masa depan
Tentang suatu kesempatan yang tak kunjung tiba
Membuat hati ini rindu pulang pada ibunda
Untuk melampiaskan emosi jiwa yang semakin memberat tersimpan dalam jiwa
Ingin melepas angan-angan hati yang tak kunjung tiba
Membiarkan diri ini kembali pada realitas alam nyata
Untuk menikmati hidup yang lebih pasti
Sebab setiap kesempatan bisa diraih dengan usaha
Mimpiku pagi ini hendak mengatakan padaku
Bahwa hidup ini selalu tak pasti
Ia tidak menjanjikan kesempatan mutlak
Semuanya diaturvoleh waktu dan membutuhkan waktu
Ia akan bergulir, berproses dan seterusnya
Akan memutuskan pada suatu saat apa yang dikehendakinya
Dan aku, hanya sebagian kecil dari proses itu
Yang mungkin tak memberi banyak arti
Bahkan mungkin hanya sekedar menjadi pemoles
Yang mungkin memberi kesan dalam dia sisi
Baik...atau...tidak baik
Kesempatan...kesempatan, aku semakin menjadi rindu dendam
Mengapa kau tak kunjung datang...
Dan hanya bermain-main dengan angan-angan (Kalbar 18 Juli 2002)