Selasa, 24 April 2018

The image of Christ, Christ for all people, kontektualisasi Kristologis?


"Lebih baik melihat satu kali, daripada mendengar seratus kali", Pepatah Cina kuno ini mewakili pendapat bahwa apa saja yang dilihat lebih mudah diingat, dan memuat orang berbicara banyak dari pada terlalu banyak mendengar"

Sumber: Google
Seorang Pelukis Afrika yang bernama Alemayehu Bizumeh menuangkan dalam kanvas peristiwa Kitab Suci, sebagai karya seni mulai dari kisah manusia pertama hingga peristiwa penyaliban Yesus, tentu saja dalam nuansa "Afrikans", ya..Yesus digambarkan sebagai orang Afrika, kulit hitam, rambut keriting, tidak seperti gambaran Yesus yang selalu kita lihat "putih dan berambut panjang". sangat kentara sekali kontekstualisasi Yesus dengan background Afrika . Lukisan-lukisan yang bernuansa kristiani, juga termasuk di dalamya karya seni pahat, patung, mozaik, membawa orang pada kekaguman yang luar biasa dengan detail yang complicated dan itu semua dibuat berabad-abad  silam. Selain mengandung nilai seni yang tinggi, karya seni itu, misalnya lukisan-lukisan pada dinding gereja juga memiliki fungsi lain yaitu katekese,  evangelisasi atau pembelajaran iman, memahami siapa Allah, siapa Yesus yang tertuang dalam Kitab Suci melalui karya seni Lukisan. Gereja-gereja di eropa pada abad silam selalu dihiasi dengan mozaik-mozaik atau lukisan bertema biblis, apalagi pada masa itu Kitab Suci hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas, maka menjadi penting hadirnya lukisan-lukisan itu.  Dan lukisan tentu dipandang akan lebih banyak berbicara, karena mempunya unsur "terbuka" untuk hermeneutika, kontemplasi dan lainya. Bahkan tentu saja ada makna teologis di balik setiap lukisan atau karya seni rohani. Buku yang berjudul The image of Christ dan Crist for all people membuktikan hal ini.



Perkembangan jaman dan perkembangan pemikiran teologi juga turut mempengruhi hasil karya seni
karena mewaikikili kelompok masyarakat tertentu, yang mempunyai kebutuhan rohani tertentu di jaman tertentu dan dengan pemikiran teologis tertentu pula. Kristus untuk semua (...kalangan) bahkan lukisan-lukisan  menjadi sangat update, cenderung "nakal" dengan memperlihatkan Yesus yang masuk pada semua segi kehidupan manusia.
Ketika handphone mulai menjadi konsumsi banyak orang, munculah lukisan dengan Tajuk "Jesus miscall". Ketika bikers mulai menjadi trend bagi pemilik kendaraan roda dua, munculah lukisa bertema "Godspeed", Yesus tampak sebagai Tokoh gaul, dengan pakaian era jaman now dan sepeda motor menjadi tungganganya ala bikers. Beda sekali dengan gambaran Yesus yang masuk ke kota Yerusalem dengan menunggang keledai. Atau Yesus sedang berolahraga tennes.

Apakah kita mengatakan ini keliru dan keterlaluan? Sementara kita berusaha menterjemahkan kehadiran Yesus secara kontekstual seperti pada jaman kita. Sekali lagi lukisan ini muncul dalam kalangan kristiani jaman modern yang mewakili maksud dan kebutuhan tertentu, dan berbicara untuk kalangan tertentu pula. Lukisan ini menjadi obyek yang bebas penafsiran dan pasti ia akan berbicara lebih personal pada orang yang melihatnya. Tentu diskusi akan semakin jauh dan cenderung bias, kalau kita bertanya "apakah Yesus dengan demikian dapat digambarkan sebagai apa saja?"
Kalau toh itu terjadi, jawabannya sederhana iman kita bukan iman lukisan, tapi iman perjumpaan pribadi yang mampu merubah kita menjadi seperti Yesus dalam hisup kita seperti yang diajarkanNya yang teringkas dalam Hukum Kasih.
Karya seni adalah otonom tentu saja selama otoritas (penguasa, mayoritas, fundamentalis dan lain-lain) tertentu tidak memberangus dan melarangnya. Sebab karya seni merupakan hasil daya cipta manusia pemberian Allah yang tertuang secara gamblang. Ia menjadi ekspresi kreativitas manusia yang sudah pasti dengan tujuan tertentu, yang tidak tertutup kemungkinan dipengaruhi juga oleh pemahaman teologis terkini.
Tidak heran banyak karya seni rohani cenderung "semau gue" semisal lukisan Jesus Miscall  atau Godpeed itu. Nah bagaimana bila kita menonton film  The Last Temptation of Crist, garapan Martin Scorsese tahun 1988 yang sangat kontroversial bagi orang kristiani, dengan Willem Defoe sebagai bintangnya.  Bukankan hal itu juga mewakili pemikiran tertentu tentang Yesus?.
Yesus Afrika karya Alimayehu Bizumeh merupakan produk dari Culture pluralism, dan mewakili cara tertentu untuk berenganvelisasi, yang tentu saja tidak bisa kita hindari melainkan kita "akrabi". Lukis ini mungkin menjadi ungkapan "Christology from Below" karena berasal dari penghayatan real orang kristiani setempat, buka produk "pesan sponsor" dari otororitas Gereja yang  didikte. Tetapi tetap perlu dicermati agar kita tidak menjadi passive resignation (cenderung pasrah) bahwa kultur akhirnya boleh bebas menggambarkan Yesus sebagai apa saja. Tentu saja jika didukung dengan penghayatan iman yang baik, pluralisme kutur bisa menjadi sumber produksi karya seni tentang Allah dan tentang Yesus sesuai dengan alam budayanya tetapi tetap berujung pada Yesus yang kita kenal dalam Kitab Suci. Sebab jika penerimaan kita pada kultur bisa dianggap "innosence acceptance" yang justru membuat karya-karya seni itu jatuh pada anti-structural (jatuh di luar ajaran Gereja), atau anti-symbolic (tidak lagi meeakili pemahaman kristologis yang dihayati dalam gereja), karena cenderung menjadi hasil karya seni untuk kepuasaan tertentu yang sedap dipandang apalagi dengan tujuan komersial, bahkan menjadi anti-spiritual culture, Yesus mejadi dengan mudah disamakan dengan tokoh tertentu dalam agama tertentu yang in se dalam budaya dan agama tersebut figure tersebut jelas tidak bisa disamakan dengan Yesus yang kita imani. Nah perlu juga kita menghindarkan diri dari sekularisasi Kristus dan yang berujung pada "kesemena-menaan" dalam mengadopsi pluralisme budaya dalam penggambaran Yesus. hal mana semua itu justru dapat menjadi jalan menuju "kekeliruan'' dalam penghayatan iman sebab, "apa yang dilihat orang, akan lebih mudah kecantol di kepala, daripada apa yang didengar".

(Uneg-unegku)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar