Selasa, 08 Mei 2018

Belajar dari "kesendirian" (menyimak pengalaman Robinson Crusoe)

Belajar dari "Kesendirian"

Bila ada pernah menonton film tentang Robinson Crusoe, prolog film ini nampak memberikan gambaran singkat bahwa sebuah catatan perjalanan 'seorang Ronbinson Crusoe' akhirnya menjadi inspirasi bagi sebuah cerita film dengan judul dari nama yang sama Robinson Crusoe. Sang mengarang cerita yakni Daniel Defoe membaca catatan perjalanan yang berisi kisah  tentang seorang pria yang terpaksa menyingkir, atau lebih tepat 'melarikan diri' karena pembunuhan yang ia lakukan melaui duel pedang untruk memperebutkan seorang gadis idaman yang ternyata sama-sama mereka cintai dan ingin miliki. Robinson Crusoe akhirnya membunuh Patrick pesaingnya. Penyingkiran yang rencananya hanya untuk setahun, seperti janji Robinson untuk Mary kekasihnya, akhirnya menjadi panjang, nasib menentukan lain. Kapal yang ditumpangi Robinson karam dan menewaskan semua awaknya kecuali Robinson seorang diri yang akhirnya terdampar di sebuah pulau.


Semenjak tahu bahwa ia terdampa di sebuah pulau mulailah petualangannya berperang menghadapi ketakutan dalam kesendirian. Kesendirian ini akhirnya terobati ketikan Robinon menemukan seekor anjing yang diberi nama skipper, yang juga selamat dari kecelakaan karamnya kapal mereka. Robinson juga masih bisa menemukan sisa-sisa perlengkapan yang dibutuhkan dari bangkai kapal itu.
Mencari aman, itulah tujuan pertama Robinson yang tampak pada awal film ini. Kesendirian menjadi penagalaman yang menakutkan. Mencari makanan dan membuat peralatan uantuk bertahan hidup seperti senjata menjadi penting untuk survive, dan untunglah masih bisa ditemukan oleh Robinson dari reruntuhan kapal. Menjadi pekerjaan pertamanya adalah membuat tempat tinggal yang aman, dengan peralatkan pertukangan yang didapatnya dan yang baru disentuhnya sebagai seorang yang berpendidikan tinggi, tentu hal ini membuat Robinson merasa kesulitan untuk belajar bertahan hidup, namun peristiwa kesendirian ini membuat dia belajar banyak hal. Dengan itu semua Robinson pelan-pelan mulai menikmati kesendiriannya.


Suasana aman mulai terganggu ketika Robinson menyadari bahwa ada penghuni lain yang masuk ke pulau tempat tinggalnya,  penduduk primitif dari pulau lain yang rupanya selalu datang ke pulau dimana Robinson tinggal untuk mengadakan ritus mereka, yakni mempersembahkan kurban manusia kepada dewa mereka. Seorang 'calon korban' bisa meloloskan diri, karena kekacauan yang dibuat oleh Robinson dengan suara tembakan senjatanya. Orang yang selamat itu akhirnya menjadi teman Robinson dalam pula itu. Memiliki teman bukan berarti kesendirian menjadi lenyap, teman barunya yang diberinya Friday juga menimbulkan kesulitan tersendiri dalam relasi mereka. Pertama tentu masalah komunikasi, salih tidak memahami bahasa masing-masing  menjadi perjungan Robinson untuk berkomunikasi dengan Friday. Namun kesulitan akhirnya mulai berkurang ketika masing-masing sudah memahami "bagaimana cara menyapa" di antara mereka. Robinson menyebut dirinya sebagai tuan, sebutan mana menunjukkan superioritas dan diskriminatif ala Eropa yang memperlihatkan bahwa orang kulit putih lebih tinggi kedudukanya, dibandingkan dengan Friday teman barunya yang nota bene berkulit hitam, dianggap primitif dan lagi kelompok suku asal Friday  selalu dijual sebagai budak.
Ketika masalah bahasa bisa teratasi, juga karena 'kemauan belajar dan kepandaian Friday" yang dengan mudah belajar bahasa Inggris, muncul lagi sebuah sebuah masalah yang cukup mendasar. Manakala Robinson dengan background bangsa eropa, kulit putih yang menganggap dirinya lebih beradab dan lagi beragama Kristen (yang monoteis tentunya), hendak mengajarkan keyakinannya kepada Friday yang telah mempunyai keyakinan animis-panteistis, dengan pakia sebagai roh kepercayaan mereka yang menghuni setiap makhluk, terjadilah pertengkaran, saling diam bahkan saling membenci. Hal ini terjadi karena Robinson hendak memaksakan keyakinannya. Namun Friday menolak Tuhan nya Robinson dan tetap memilih percaya kepada pakia nya. Dalam konteks ini perlu kita cermati bahwa benih permusuhan bisa muncul dari keyakinan yang berbeda bila yang satu memaksakan keyakinannya kepada yang lain. Dan akan ada damai bila masing-masing saling meghargai keyanikan yang berbeda, bahkan mencoba memahaminya. demikian juga relasi Robinson dan Friday akhirnya membaik tatkala Robinson 'dengan rendah hati' menyadari kekeliruannya, dan mulai lebih dulu menyapa Friday, dan saling menghargai keyakinan masing-masing. Indahnya hidup dalam pluralitas dan saling menghargai.

Satu masalah teratasi, muncul lagi maslah baru, ketika Friday akhirnya tahu apa artinya ia memanggil 'tuan' kepada Robinson, yang seperti ditulis di atas menunjukkan relasi kelas atas dan kelas bawah yang memperlihatkan perbedaan derajat, relasi tuan dengan budak. Friday dengan tegas memprotes hal ini, karena ia melihat durinya juga memiliki martabat sebagai manusia bebas, sungguh 'pengetahuan yang membebaskan bukan?' Friday memperlihatkan bahwa dirinya bukan budak tetapi sederajat, sebagai teman, sebagai sahabat dan sebagai manusia. Dalam konteks ini mau diperlihatkan bahwa martabat manusia dan  kebebasan, adalah nilai yang tinggi, dan lagi-lagi bisa menimbulkan masalah, perselisihan dan pertengkaran apabila kedua hal ini tidak dihargai. Nah, masalah ini menjadi cair ketika masing-masing menyadari kesamaan derajat dan martabat serta kebebasan, yang didasari oleh kesadaran bahwa mereka adalah sahabat satu bagi yang lain.
Persahabatan itulah yang akhirnya mengubah pola pikir Friday terhadap Robinson  yang adalah orang kulit putih. Ini semua terbentuk dari pengalaman pahit masa lalunya tentang orang kulit putih yang jahat, namun ternyata predikat ini tidak ia temukan dalam diri Robinson. Kenyataanlah yang merubah sesuatu bukan slogan apalagi hoax. Hal ini memperlihatkan juga bahwa orang primitif sekalipun sepertiFriday dalam hal ini, mempunyai jati diri, dan bisa berubah pola pikirnya menjadi lebih maju karena mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang berharga. Pendek kata pendidikan itu seharusnya membuat orang semakin bermoral, bukan semakin jahat.
Persahabatabn mereka berdua membuat mereka saling memahami, saling membantu mengatasi masalah yang terjadi dalam pulau dimana mereka tinggal. Indahnya persahabatan! Karena perhabatan ini juga Robinson mau mengikuti Friday ke tempat asalnya setelah terlebih dulu dengan susah payah meyakinkan sahabatnya Friday ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ketika mereka berada di tempat asal Friday. Tatanan masyarakat suku asal Friday menghendaki lain. Mereka tidak diperbolehkan hidup terus melainkan saling membunuh melalui duel. Betapa sering terjadi tatanan hidup masyakat justru bertentangan dengan moralitas manusia. Akhirnya Friday pun tewas bukan oleh tangan Robinson, dan ini tidak akann mungkin terjadi karena mereka adalah sahabat, melainkan oleh peluru orang kulit putih (jahat) yang menyerang kampung mereka untuk mencari budak.
Robinson sendiri, blessing indisguise, justru bisa kembali ke tempat asalnya karena kedatangan orang-orang kulit putih itu. Robinson akhirnya bisa kembali kepada kekasihnyan Mary, dan sudah bisa ditebak kalau cerita ini akan berakhir dengan happy ending, sebagai epilog cerita Robinson Crusoe oleh Daniel Defoe ini.
Ada hal lain yang menarik dari kisah Robinson Crusoe ini. Terutama tentang pameo "dog is men's best friend". Diperlihatkan betapa dalamnya juga persahabatan antara manusia dan hewan, dalam hal ini seeokor anjing yang ditemukan oleh Robinson, sudah pasti dari kapal mereka yang karam, dan diberi nama skipper oleh Robinson. Robinson sangat menyayangi anjing ini, begitu juga skipper terhadap Robinson, dan betapa terpukulnya Robinson ketika skipper mati, saking sayangnya pada skipper, anjing itupun ia makamkan secara pantas, layaknya manusia, bahkan di atas makan skipper ditancapkan sebuah salib, seolah-olah skipper sabahatnya adalah seekor anjing yang beragama nasrani. Tidak hanya itu, Daniel Defoe, sang penulis cerita ini menambahkan sedikit bumbu yang menarik, dengan menempatkan dalam perkataan Robinson tentang skipper sebagai 'anjing yang sangat beriman'. Iman memang menampakan wujudnya yang nyata dalam persaudaraan, perhabatan, saling menghargai dan lain-lain, bukan permusuhan dan saling bunuh!
 Cerita inipun berisi pesan dialog dalam pluralisme. Ketika Robinson yang nasrani dan Friday yang animis-panteistis bisa hidup berdampingan dan saling memahami, bahkan bisa berdoa dengan keyakinannya masing-masing untuk memohon pada Tuhan mereka ketika mereka dalam kesulitan menghadapi musuh. Pluralisme justru menjadi indah, ketika orang saling menghargai dengan tujuan yang sama.
Sisi lain cerita ini tentu lebih romantis, yakni ketika keinginan yang begitu kuat (baca: kekuatan cinta) memotivir seorang Robinson untuk tetap survive untuk bisa kembali kepada kekasihnya. Cinta menjadi daya dorong, fighting spirit yang membuat orang bisa bertahan hidup.

Tetapi ada juga sebuah pesan berharga, yakni Robinson yang tidak pernah melupakan jasa dari temannya Friday. Robinson mengingatkan Mary, bahwa karena sahabatnya Friday yang sudah mati, ia dapat kembali kepada Mary. Nah seberapa dalamkah penghargaan kita terhadap seorang sahabat?

Kesendirian Robinson adalah alone but not lonely. Robinson dalam kesendiriannya mengajarkan banyak hal kepada kita, seperti diuraikan di atas. Persahabatan, persaudaraan, cinta, perjuangan, pembelajaran, kerja keras, bahkan perbedaan dapat menjadi senjata berharga untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar