Dari beberapa kota di pulau Jawa, kota Sragen dan Solo termasuk daerah penghasil
aneka ragam
batik,
baik tulis, cap, printing, semi tulis, smoke, cap mix tolet dan tolet biasa dan mungkibn masih ada yang lainnya
. Tanggal 26 April 2018 lalu saya, tepatnya kami berdua (saya dan istri saya) dolan (jalan-jalan) ke Sragen dan Solo untuk melihat
wokshop batik, tetapi kali ini ke tempat
pabrik printing (manual). Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya yang selama ini kurang saya perhatikan.
Proses produksi batik printing
 |
| Sumber : Kalinggobatiksolo.com |
Yang menjadi perhatian saya bukan
wokshopnya atau
pabriknya, karena dibandingkan dengan yang lain pada umumnya yang sistem manual, dalam hal ini menggunakan tenaga kerja manusia bukan mesin tidak ada perbedaan yang mencolok. Yang membedakan adalah ada yang benar-benar menjaga kualitas dari
outputnya dan ada yang mungkin kurang memperhatikannya. Misalnya proses mempersiapkan pewarna yang digunakan. Bagi pemain di batik printing untuk menjaga kualitas perlu sekali mempersiapkan pewarna yang kelak menghasilkan produk yang memuaskan bagi konsumen, artinya memberikan waktu khusus untuk mengecek sendiri proses mempersiapkan pewarnaan atau bahkan mengerjakan sendiri pewarna yang akan digunakan untuk sekali produksi atau bilang saja untuk mencetak dalam sehari dengan target tiga karyawan dengan 6 jam kerja
plus 1 jam istirahat, untuk mengkasilkan produksi printing sepanjang 200 meter dengan lebar 1, 1 meter dari
bahan mori entah itu
prima atau
primisima. Satu formula pewarnaan hanya dipakai untuk satu kali proses printing. Ratio ini saya perkirakan dari workshop yang hanya memiliki satu meja printing sepanjang 25 meter. Sudah pasti di workshop yang lain memiliki formula peralatan dan karyawan yang berbeda-beda. Jika formula pewarnaan itu kemudian ada sisa dan masih dipakai lagi untuk mencetak, maka akan menghasilkan produk yang berbeda warna, dengan cetakan hari sebelumnya, "
yang warna tua akan bleber (bercampur)
dengan warna yang muda". Demikian keterangan yang saya dapat dari seorang pemilik
workshop batik printing manual. Kejadian seperti ini tentu bisa mengecewakan pelanggan karena pesanannya batiknya dengan motif sama ternya memiliki perbedaan warna yang tidak diinginkan. Maka untuk menjaga kualitas, produsen harus memperhatikan hal ini.
Cara memasarkan produk
Sebelum berkembangnya
IT, proses pemasaran masih bersifat
tradisional, artinya transaksi terjadi
 |
| Membuat batik cap. Sumber: TrioBBC |
|
|
dari produsen langsung ke konsumen, atau juga ada pihak kedua yang menghubungkan preodusen batik ke pelanggan, atau pihak kedua yang mempunyai peran sebagai pembeli yang kemudian melemparkan ke pasar. Biasanya produsen memiliki pihak kedua yang membuat batik mereka sampai pada pelanggan. Apalagi tranportasi tidak semaju jaman ini, juga alat produksi dan hasil produksi sekarang jauh lebih berkembang. IT sangat berpengaruh terhadap jalur pemasaran. Walaupun proses lama masih juga ada. Misalnya produsen punya gerai atau toko sendiri, yang juga memproduksi batik siap pakai, semisal konveksi yang memproduksi pakaian berbahan batik yang sudah jadi dalam jumlah banyak dan dilempar ke pasar, konsumen tinggal membeli sesuai selera dan ukuran yang umum. Atau juga produksi yang atau sifatnya jaitan sesuai permintaan yang mengutamakan selera pribadi, dengan motif yang
"sanggit" atau
pola sambung atau
simetris sehingga indah dipandang.
Sekarang produsen bisa mengadakan transaksi dengan para konsumen, bukan hanya lintas daerah di Indonesia melainkan juga manca negara, bahkan konsumen bisa langsung meminta produsen untuk memproduksi batik sesuai seleranya. Nah ini juga tergantung dengan cara produsen melihat peluang pasar dengar mengakomodir kebutuhan konsumen dengan memberi tawaran kemudahan bertransaksi. Dalam konteks inilah IT sangat berperan, transaksi
online menjadi media produsen memasarkan produknya.
 |
| Membuat batik tulis, sumber : Google |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nah inilah buah dari hasil
tanya sana-sini di Sragen dan Solo. Ada kepuasan tersendiri mengetahui sedikit tentang "batik". Apalagi kalau melihat sendiri corak, motif, warna dan lainnya. kasanah Indonesia yang luar biasa, ayo pakai batik, ayo cintai batik kita sebagai bagaian dari cara kita mencintai karya negeri sendiri.
(
nemo dat quod non habet,
tak seorangpun memberi dari apa yang ia tidak miliki)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar