![]() |
| sumber: Google |
Sumbangan Kesusastraan Melayu-Tionghoa Pada Kesusastraan Indonesia
(Menilik Perkembangan Sastra Melayu-Tionghoa)
Bermula syair ini dikarang
Membri tahu sekalian orang
Barula ada jaman sekarang,
Raja Siam datang di tana seberang
Dari Siam ke Singapura
Di Betawi sudah bikin bicara
Kompani prenta ini perkara'
Sopaiya sambut dari muara
Singapur nyebrang di Batavia,
Sebab mau liat tana Jawa
Tuan Besar sudah suruh sedia,
Ruma gedong sudah disewa.
(Penggalan Syair, "Sair Kedatangan Sri Maharaja Sian di Betawi" 1870, dalam bahasa Melayu-Rendah, Pengarang tidak diketahui)
Pendahuluan
Sepenggal syair di atas adalah hasil dari karya sastra pertama Melayu-Tionghoa, yang ditulis tahun 1870. Ini adalah salah satu dari ribuan hasil karya sastra yang terbentang sepanjang 100 tahun. Dihitung mulai dari tahun 1870 sampai berakhirnya pada tahun 1966, yang ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan RI, pada tanggal 6 Juli 1966 yang isinya adalah "penutupan semua sekolah yang berbahasa pengantar "Bahasa Tionghoa" dan sekaligus menganjurkan aemua anak-anak peranakan Tionghoa untuk bersekolah di sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia baik swasta maupun negeri.(Periodisasi ini merupakan pendapat Jakob Sumardjo, seperti yang ditulis oleh Leo Suryadinata dalam bukunya "Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia", 1966)
![]() |
| Sumber: Pinterest.com |
1. Ekspresi eksistensial
Sastra bisa dipandang juga sebagai ungkapan eksistensi dari sebuah komunitas, demikian halnya berlaku dengan kesastraan Melayu Tionghoa, ia bukan sekedar menjadi fakta dalam sejarah, tetapi juga menjadi ekspresi jati diri peranakan Tionghoa. Sengaja dipakai terminologi kesastraan untuk memperlihatkan sebuah cakupan yang lebih luas, yakni tidak hanya dibatasi pada karya sastra, tetapi juga apa saja yang berkaitan dengan sastra.
1.1. Sekilas tentang masuknya orang-orang Tioghoa ke Indonesia
Melalui sejarah masuknya orang-orang Tionghoa ke Indonesia, kita akhirnya mengetahui bahwa orang-orang Tionghoa yang ada di Indonesia ini kebanyakan berasal dari Tiongkok selatan, yaitu dari propinsi Fukien dan Kwantung.
![]() |
| http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.co.id |
sejak akhir abad ke 19 banyak orang Hakka yang tinggal di luar Jawa, pindah ke Batavia atau Jakarta dan Jawa Barat karena berdagang.n Sastra Melayu Tionghoa terutama berkembang di pulau Jawa, sudah pasti bahwa pendukung kebangkitan sastra saat iti lebih banyak berasal dari orang-orang Hokkien. Orang Hokkien masuk Nusantara diperkirakan pada tahun 1619, sejaman dengan kekuasaan VOC di Batavia. Seperti diktakan di atas kebanyak dari mereka ini adalah golongan menengah, dalam hal ekonomi mereka termasuk kelompok yang cukup baik dalam hal kesejahteraan. Konteks lingkungan yang seperti ini bisa di bilang menjadi lingkungan yang peduli dengan kebudayaan dan pendidikan. Banyak di antara mereka yang terpelajar dan masih memiliki tradisi sastra dan budaya Tionghoa. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa yang bermigrasi saat itu hanya kaum pria, sedangkan kaum wanitanya baru nanti sesudah Perang Dunia I, yaitu sekitar tahun 1918. Sudah barang tentu kemudian para pria Tionghoa ini menikah dengan wanita penduduk setempat (pribumi), tetapi keturunan mereka ini tetap dididik menurut budaya Tionghoa seperti bapaknya. Perkembangan sastra melayu Tionghoa akan dipengaruhi oleh konteks sosiologis seperti ini.
(Bersambung Part 2)
Part 2 : Sumbangan kesusasteraan Melayu-Tionghoa pada Kesusasteraan Indonesia



Tidak ada komentar:
Posting Komentar