Jumat, 20 April 2018

Sumbangan Kesusastraan Melayu-Tionghoa Pada Kesusastraan Indonesia (Menilik Perkembangan Sastra Melayu-Tionghoa)

sumber: Google

Sumbangan Kesusastraan Melayu-Tionghoa Pada Kesusastraan Indonesia
 (Menilik Perkembangan Sastra Melayu-Tionghoa)

Bermula syair ini dikarang
Membri tahu sekalian orang
Barula ada jaman sekarang,
Raja Siam datang di tana seberang

Dari Siam ke Singapura
Di Betawi sudah bikin bicara
Kompani prenta ini perkara'
Sopaiya sambut dari muara

Singapur nyebrang di Batavia,
Sebab mau liat tana Jawa
Tuan Besar sudah suruh sedia,
Ruma gedong sudah disewa.

(Penggalan Syair, "Sair Kedatangan Sri Maharaja Sian di Betawi" 1870, dalam bahasa Melayu-Rendah, Pengarang tidak diketahui)


Pendahuluan

Sepenggal syair di atas adalah hasil dari karya sastra pertama Melayu-Tionghoa, yang ditulis tahun 1870. Ini adalah salah satu dari ribuan hasil karya sastra yang terbentang sepanjang 100 tahun. Dihitung mulai dari tahun 1870 sampai berakhirnya pada tahun 1966, yang ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan RI, pada tanggal 6 Juli 1966 yang isinya adalah "penutupan semua sekolah yang berbahasa pengantar "Bahasa Tionghoa" dan sekaligus menganjurkan aemua anak-anak peranakan Tionghoa untuk bersekolah di sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia baik swasta maupun negeri.(Periodisasi ini merupakan pendapat Jakob Sumardjo, seperti yang ditulis oleh Leo Suryadinata dalam bukunya "Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia", 1966)
Sumber: Pinterest.com
Sebuah masa waktu yang panjang dan pasti telah menyumbangkan banyak sekali hasil karya satra. Padahal orang Cina (baca: Tionghoa) biasanya lebih dikenal sebagai etnis yang pandai berdagang. sudah taken for granted bahwa orang-orang Cina dikaitkan dengan perdagangan atau niaga.Pada umumnya di Asia Tenggara ketika mendengar kata "orang Cina" selalu merujuk pada etnis pedagang. sehingga sisi lain dari produk etnis ini, seperti di bidang sastra yang akan diulas ini minim sekali perhatian atasnya. Dalam sejarah Bangsa Indonesia, etnis Cina adalah sebuah realitas dan identitas yang juga turut ambil bagian dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, dalam hal sastra malah bisa dibilang kalau pengaruh dari etnis Cina tidak bisa diabaikan.

1. Ekspresi eksistensial

Sastra bisa dipandang juga sebagai ungkapan eksistensi dari sebuah komunitas, demikian halnya berlaku dengan kesastraan  Melayu Tionghoa, ia bukan sekedar menjadi fakta dalam sejarah, tetapi juga menjadi ekspresi jati diri peranakan Tionghoa. Sengaja dipakai terminologi kesastraan untuk memperlihatkan sebuah cakupan yang lebih luas, yakni tidak hanya dibatasi pada karya sastra, tetapi juga apa saja yang berkaitan dengan sastra.

1.1. Sekilas tentang masuknya orang-orang Tioghoa ke Indonesia

Melalui sejarah masuknya orang-orang Tionghoa ke Indonesia, kita akhirnya mengetahui bahwa orang-orang Tionghoa yang ada di Indonesia ini kebanyakan berasal dari Tiongkok selatan, yaitu dari propinsi Fukien dan Kwantung.
http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.co.id
Tetapi yang paling tua, atau yang terlebih dahulu bermigrasi ke Indonesia adalah suku Hokkien dari propinsi Fukien yang ibukotanya adalah Amoy. kebanyakan dari mereka ini hidup dengan berdagang dan berasal dari lingkungan menengah di Tiongkok. sesudah itu  ada juga migrasi dari orang-orang Teo-Chiu dan Hakka dari propinsi Kwantung. Menurut data, suku-suku terakhir ini berasal dari kelas bawah yang kemudian di Infdonesia kebanyakan mereka ini bekerja sebagai buruh perkebunan atau pertambangan. Di Indonesia, orang-orang Hokkien menetap di pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur.
sejak akhir abad ke 19 banyak orang Hakka yang tinggal di luar Jawa, pindah ke Batavia atau Jakarta dan Jawa Barat karena berdagang.n Sastra Melayu Tionghoa terutama berkembang di pulau Jawa, sudah pasti bahwa pendukung kebangkitan sastra saat iti lebih banyak berasal dari orang-orang Hokkien. Orang Hokkien masuk Nusantara diperkirakan pada tahun 1619, sejaman dengan kekuasaan VOC di Batavia. Seperti diktakan di atas kebanyak dari mereka ini adalah golongan menengah, dalam hal ekonomi mereka termasuk kelompok yang cukup baik dalam hal kesejahteraan. Konteks lingkungan yang seperti ini bisa di bilang menjadi lingkungan yang peduli dengan kebudayaan dan pendidikan. Banyak di antara mereka yang terpelajar dan masih memiliki tradisi sastra dan budaya Tionghoa. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa yang bermigrasi saat itu hanya kaum pria, sedangkan kaum wanitanya baru nanti sesudah Perang Dunia I, yaitu sekitar tahun 1918. Sudah barang tentu kemudian para pria Tionghoa ini menikah dengan wanita penduduk setempat (pribumi), tetapi keturunan mereka ini tetap dididik menurut budaya Tionghoa seperti bapaknya. Perkembangan sastra melayu Tionghoa  akan dipengaruhi oleh konteks sosiologis seperti ini.
(Bersambung Part 2)

Part 2 : Sumbangan kesusasteraan Melayu-Tionghoa pada Kesusasteraan Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar