1.2. Cina atau Tionghoa: sebuah persoalan identitas
![]() |
| Sumber : Google |
1.3. Perjalanan Penggunaan kata :Cina, Tionghoa dan Tiongkok
Tidak bisa diambil kesimpulan begitu saja bahwa sebutan Cina yang yang sebelum 1972 dieja Tjina untuk merujuk pada sebutan Tionghoa atau Tiongkok, sebab kata ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Telaah etimologi kata ini penting untuk melihat bahwa penggunaan kata Cina atau Tionghoa punya nuansa tersendiri. pada lebel barang-barang produksi cetakan, lebel Cina ini sudah ada pada abad ke 17 dan kata ini sama sekali tidak ada hubungan dengan yang disebut name calling itu dan tidak ada seorangpun yang mengusulkan untuk mengganti sebutan Cina dengan Tionghoa. Di Cina sendiri sebutan Tionghoa yang dalam lafal Hokkian disebut Zhonghua sangat berhubungan dengan bangkitnya nasionalisme, yaitu pada akhir abab ke 19. Istilah Zhonghua telah digunakan beberapa abad sebelumnya sebagai sinonim dari Zhongguo untuk menyebut daratan pusat Tiongkok, atau diterjemahkan dengan Negeri Tengah atau Midle Kingdom. Kaum nasionalis Tionghoa mengadopsi sebutan ini untuk merujuk pada sebuah "kebangsaan baru" yakni Zhonghua Minguo atau Chung-hua Min-kuo yang dalam bahasa Inggrisnya "Republic of China"
Di Indonesia sendiri istilah Tionghoa untuk untuk pertama kalinya ditemukan dalam perkumpulan yang didirikan pada taghun 1900 yaitu Tiong Hoa Hwee Koan, disingkat THHK, yang dalam lafal Mandarin baku : Zhonghua Huiguan. Dalam anggaran Dasar THHK, istilah Cina atau Tjina masih tetap digunakan, sebab kata Tionghoa belum masuk dalam perbendaharaan kata Melayu. Dalam laporan pers THHK, dalam surat kabar Li po, digunakan kata Bangsa Tjina atau Negeri Tjina untuk menyebut orang Tionghoa atau Tiongkok. Tahun 1904 mulailah dipakai istilah Tionghoa, tetapi istilah Tjina juga tidak hilang dan masih tetap dipakai juga.
| Sumber : Google |
Istilah Tionghoa mulai populer dikalangan orang Tionghoa di Hindia Belanda seiring dengan bangkitnya nasionalisme di pulau Jawa pada dekade ke 2 abad ke 20. Istilah ini ada hubunganya dengan Zhonghua didaratan Tiongkok sana. dan sudah poasti penggunaan istilah inbi merujuk pada sara solidaritas mereka. Maka dirasa perlu untuk memperkenalkan istilah ini dalam bahasa melayu yang digunakan oleh peranakan Tionghoa dalam percakan sehari-harinya. Tujuan lain mempopulerkan istilah ini juga merupakan wujud ketidaksenangan mereka yang dianggap sebagai penduduk kelas dua oleh Hindia Belanda, yang pada waktu itu membagi-bagi strata kependudukan berdasarkan ras. Dalam konteks ini betapa terlihat sistem pendidikan yaitu bahwa yang boleh bersekolah pada Jaman Hindia Belanda hanya orang-orang Eropa. Nah nanti pada jaman "Politik Etis" para gubernur jendral diperintahkan membuka sekolah bagi kaum "pribumi" padahal orang Cina tidak dibukakan sekolah sama sekali.
Setelah mulai terbiasa dengan penggunaan istilah Tionghoa, istilah Tjina mulai tidak dipakai lagi karena dianggap sebagai sebutan kelas rendah dan menjadi target dari gerakan nasionalis Tionghoa.
Nah dalam konteks inilah orang-orang Tionghoa mulai merasa terhina kalau mereka dipanggil dengan sebutan Tjina. Bahkan anggaran dasar THHK mengalami amandemen berkaitan dengan penggunaan istilah ini, yang akhirnya berganti dengan Tionghoa. Dan dalam surat-surat resmi mulai dipakailah istilah Tionghoa. Begitulah sejak saat itu bahkan sampai pada saat penjajahan Jepang hingga kemerdekaan Indonesia istilah Tionghoa tetap dipakai, juga dalah seluruh pers bahasa Indonesia dipakai istilah Tionghoa.
Pada tahun 1966, istilah Cina mulai dipakai lagi, hal ini ada kaitannya dengan seminar Angkatan Darat RI II, yang dilaksanakan tanggal 25 hingga 31 Agustus 1966 di Bandung, yang bertujuan mengkaji kembali peran politik Angkatan Darat. Untuk lebih jelasnya dalam seminar tersebut muncul pendapat seperti dikutip berikut ini:
"Untuk mengembalikan sebutan umum kepada pemakaian yang telah lazim terdapat dimana-mana, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan dalam berbagai hahasa, sebagai sebutan bagi negara dan warga negara yang bersangkutan, tetapi terutama untuk menghilangkan rasa inferior pada bangsa kita sendiri, sebaliknya menghilangkan rasa superior pada golongan yang bersangkutan di negara kita, maka patut pula kami laporkan bahwa seminar telah memutuskan untuk kembali memakai penyebutan bagi Republik Rakyat Tiongkok, dirobah menjadi REPUBLIK RAKYAT TJINA dan warga negaranya dengan TJINA. Hal ini dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari segi historis dan sosiologis" (Leo Suryadinata, Negara dan Etnis Tionghoa, Kasus Indonesia, 2002)
Dalam situasi anti-PKI yang memusuhi NEKOLIM istilah Tjina atau Cina ini berkembang. Perlu diketahui bahwa istilah Tjina ini merupakan jalan tengah, karena dalam Seminar AD II banyak juga muncul usulan anti-Tionghoa. Suharto yang masih memikirkan banyak hal tentang stabilisasi ekonomi, yang mengambil jalan tengah ini. sebab bisa jadi usulan anti-Tionghoa yang sangat ekstrim bisa mengagalkan programnya.
Mokhtar Lubis, dalam konteks ini menulis demikian, "Pemakaian istilah Tjina mungkin sesuai untuk menunjukkan kemarahan kita terhadap Peking, tetapi istilah ini digunakan karena istilah ini dirasakan mengandung penghinaan terhadap golongan Tionghoa. Dan istilah Tionghoa tidak bisa dibatasi pada warga RRT, tetapi paling sedikit ini akan melukai warga negara Indonesia Keturunan Tionghoa". Tersirat dalam pemikiran beliau kalau sebutan ini "kurang berkenan" untuk digunakan.
Begitulah sejarah terus berjalan, lama kelamaan istilah yang dipakai pada era Suharto ini dengan maksud penghinaan mulai pelan-pelan sirna seiring jatuhnya Suharto, banyak orang kembali menggunakan istilah Tionghoa. Orang-orang yang tahu asal usul kata Tionghoa pasti akan menyebut Tionghoa untuk orang Cina dan kata "Cina" untuk Negara Cina. Namun banyak orang yang tidak tahu latar belakang istilah Tionghoa dan sudah terbiasa dengan istilah Cina tetap dengan sengaja memakai istilah Cina untuk menyebut "orang Cina" dan memang sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah, bagi orang Cina sendiri ada yang sudah biasa memakai istilah Cina dan lebih enak diucapkan dan tidak merasa bahwa istilah ini mengandung "penghinaan" dan ini biasanya muncul pada anak-anak kelahiran baru yang tidak terlalu peduli dengan sejarah asal-asal usul sebutan Cina, dan menganggapnya tidak penting, sebab ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar sebutan Cina, artinya Tionghoa atau Cina sama saja.
Dalam tulisan yang berhubungan dengan sastra melayu Tionghoa ini, sengaja kata Tionghoa lebih banyak dipakai sebagai sebutan yang lebih pantas dan mengandung nilai sejarah yang berhubungan dengan sastra dan memiliki konotasi yang lebih mulia, maka dalam penulisan artikel ini akan selalu dipakai sebutan Tinghoa untuk Etnis Cina..(bersambung)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar